Kendati kerja keras gua yang mati-matian, mengejar nilai bagus, mengerjakan tugas dengan sungguh2, beribadah dengan taat, gua melesat menjadi ranking 1 di kelas SKS gua dan gua merasa bangga. Namun, dibalik semua pencapaian itu, ada sesuatu yang gua korbankan, teman. Gua ngerasain rasanya sibuk sendiri sama tugas sendiri sampe2 lupa bergaul sama temen sendiri. Alhasil komunikasi gua gak lancar, kaku, payah, dan terlalu formal. Basa-basi santai aja gua payah.
Berangkat dari itu, gua jadi makin lama makin kendor, gua jadi jarang belajar sungguh2, tugas-tugas gua kerjakan dengan santai, dan WAKTU ITU GUA SADAR, gua butuh temen. Rasanya dunia sempittt sekali ketika tidak ada seseorang yang bisa diajak berbicara, rasanya aneh sekali tidak dapat seperti yang lain.
Berkat itu gua sekarang menjadi lebih terbuka pikirannya, pergaulannya lebih gaul lagi, lebih percaya diri, tetapi ada satu hal yang gua juga harus korbankan, disiplin. Karena merasa semua teman gua berjalan dengan lambat, gua juga lambat, teman pada ini gua ini juga. Segala waktu terasa hambar, kalau gua ngajak basa-basi, basi banget dan payah. Kalo disuruh ngomong opini gua gelagapan.
Intinya begini, gua kerja keras di awal demi dapet hasil yang terbaik di akhir, tetapi usaha itu nampaknya belum mendapatkan kesimpulan. Bulan Februari mendaftar SNBP, nilai rapor. Optimis karena paling tinggi dan ada alumni. Gagal. Berjuang di SNBT, walau awal2 agak santai, tetap gagal. Mencoba mandiri SSU rapor ITB, gagal. Semua belum mendapatkan jawaban.
Mungkin Anda akan mengira bahwa saya akan merasa waktu saya terbuang sia-sia karena belajar terlalu serius di awal-awal. Dan itu benar, saya merasa demikian. Namun, semakin merenung, saya berpikir, memang ini bukan jalan buat diriku. Masuk ITB nampak sperti mimpi yang jauh nan sulit. Rasanya tidak pantas diriku yang suka menunda-nunda diperbolehkan menginjakkan rumput kampusnya. Ada rasa insecure. Rasa takut. Rasa tidak pantas.
Mau direloas berkali-kali hingga ribuan kali, tulisan "TIDAK LULUS" tetap tidak akan diubah dan berubah. Dari sini saya belajar, kalau saya sebenernya pinter cuman kurang konsisten. Itu aja! Hari pertama ditolak belajar mati-matian, hari kedua mulai pudar, hari kesepuluh rebahan di sofa doomscroll. Kan itu masalahnya! Saya kurang mau berusaha lebih! Dan konsisten pula!
Ya sudahlah. When yh.....
No comments:
Post a Comment